Qais dan Laila; Potret Rindu itu Berat

  • Bagikan
qais dan laila

Lagi-lagi tentang Dilan, seakan tak usang untuk tetap diperbincangkan. Dari judul di atas sudah jelas, bahwa penulis akan berbicara tentang Dilan. Ya begitulah, meski agak ikut-ikutan dan dianggap norak, penulis akan tetap berbincang terkait Dilan. Karena pribadi penulis, tidak semua perilaku yang kurang ajar, tidak semua perkataannya salah. Toh kendatipun kita semua tahu bahwa yang ia lakukan dari waktu ke waktu tak jauh dari kata kurang ajar, pembuat onar, penambah masalah, dan perilaku jelek lainnya.

Terkait kata-katanya, “Jangan rindu. Rindu itu berat.” Kira-kira begitulah rayu Dilan kepada pujaan hatinya, Milea. Saat pertama kali kata-kata itu berseliweran di telinga saya, namun dengan waktu yang berlalu, saya merasa iri hati, kok bisa anak SMA sekelas dia terpikirkan untuk sekadar melontarkan kata-kata itu. Entah kenapa tiba-tiba demikian, yang jelas ucapan Dilan itu telah menerobos molekul pikiran saya, dan merekomendasikan saya untuk segera menelaah dan mengkaji ucapan tersebut.

Sekarang untuk membuktikan, mari alihkan pembicaraan kita sebentar mengenai rindu. Sudah bukan barang tabu di telinga, kan? Semua orang di dunia pasti pernah merasakan rindu. Perihal rindu sendiri, hemat penulis, maka juga berbicara tentang jarak. Makin jauh jarak memisah, semakin dahsyat rindu melanda. Makin lama waktu tak bertemu, semakin hebat rindu menggebu.

Terimakasih untuk Syeikh Muhammad Amin al-Kurdi al-Irbaly, yang telah sudi memberikan ilmunya, melalui karya tulisnya yang bertajuk Tanwirul Qulub. Dalam kitab berisi tiga cabang ilmu itu, ada begitu banyak ragam cerita tentang beratnya rasa rindu. Diantaranya yang paling masyhur adalah, cerita pria asal Basrah yang dikutuk waktu tak kunjung bertemu dengan kekasihnya. Setiap hari ia menangis dan berujar “Sampai kapan aku bisa bertemu dengan dia.” Pria itu larut dalam kerinduan, hingga derai mata yang membelah pipinya membuat ia buta, bahkan hingga tutup usia. 

Bahkan jauh sebelum Dilan dan pria Basrah tadi dilanda rindu yang begitu mendalam, Sahabat Abu Bakar as-Siddiq RA. telah lebih dulu merasakannya. Sesuai dengan pendapat Imam Hakim dari jalur periwayatan Ibn Umar, di antara penyebab wafat Abu Bakar as-Siddiq adalah rasa bela sungkawa yang amat mendalam atas kepergian Nabi. Dari peristiwa itu, kian hari kian waktu, beliau merasa rindu untuk segera bertemu, hingga dua tahun kemudian, karena tak kuasa lagi menahan rasa rindu, beliau jatuh sakit, tambah hari tambah melemah, mengurus, dan akhirnya tutup usia menghadap Tuhan.

 Olehh karenanya, Syeikh al-Bujairami dalam kitabnya yang bertuliskan Hasyiyah Bujairami ‘ala Syarhi Manhaji at-Tullab berkata “Sungguh beruntung bagi mereka yang meninggal dunia karena tak kuasa menahan rindu yang melanda, sebab ia tercatat sebagai orang-orang yang mati syahid.” Namun beliau memberi catatan, bahwa orang meninggal tersebut harus menyimpan rasa rindunya, dan tidak mengarahkannya pada arah kemaksiatan.

Demikian ini sejalan dengan kisah cinta Qais yang gila gara-gara Laila. hingga kegilaaannya tambah menjadi-jadi saat ia mengetahui bahwa Laila telah pergi menghadap Ilahi. Dan tak lama dari kejadian itu, Qais pun menyusul, dan wafat di atas pusara Laila. Lagi-lagi penyebabnya karena rindu.

Jadi sudah benar kan, pernyataan dan kata-kata Dilan terkait dengan rindu memang bukan isapan jempol belaka. Karena memang sejatinya, “Rindu itu berat”.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.