Akhlak Murid terhadap Guru

  • Bagikan
Akhlak Murid terhadap Guru

Para guru di pesantren kita, mungkin risih, saat mengajar di kelas mereka. Pasalnya mendekati waktu istirahat, beberapa murid akan meminta untuk segera mengakhiri pelajaran. 

Perlu untuk disadari, jangankan “tradisi” tidak menghormati guru. Kiai saja, oleh segelintir santri yang sesama mereka ini (red: yang tidak menghormati guru) juga tidak dihormati. Buktinya, setelah ngaji, sebelum kiai beranjak ke dalem, ada sebagian santri yang langsung pulang, tanpa menunggui beliau ke dalemnya.

Para santri sedemikian ini, sudah lupa adab menghormati dalam mencari ilmu. Dalam, Ta’lîm al-Muta’allîm terdapat untaian kata begini “ Siapa yang tidak menghormati gurunya maka haram (red; dihalangi) kemanfaatan ilmunya. 

Dalam kitab yang sama. Dikisahkan seorang santri yang berbakti kepada orang tuanya. Namanya Syekh Abu Bakar. Suatu waktu gurunya yang bernama Syekh Syamsul Aimmah Halwani keluar dari negaranya karena sesuatu hal yang menuntut. Semua murid-muridnya menjenguk Syekh halwani, kecuali syekh Abu Bakar.

Ketika bertemu, si Syekh menanyai Abu Bakar, menanyakan alasan ketidak datangannya. “ Saya sibuk dengan ibuku” jawab Abu Bakar. Mendapati alasan muridnya ini, Syekh Syamsul Aimmah Halwani berkata “ Kamu akan merasakan berkah umurmu, tetapi tidak dapat merasakan keindahan mengajar,” ujar syekh samsul aimmah. Ucapannya pun menjadi nyata.Mengaca pada kisah di atas, bisa kita simpulankan bahwa, seorang thalibul ilmi harus menghormati gurunya. Oleh karena itu, dua kebiasaan atas harus diberangus habis supaya ilmu kita bisa bermanfaat dan tidak ditiru oleh para santri junior. Semoga seluruh kebiasaan buruk santri Sidogiri, hilang dari pesantren kita ini secara keseluruhan. Amin. Wassalam.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.