Artikel Generasi Milenial

  • Bagikan
Artikel Generasi Milenial

Istilah “milenial” diciptakan oleh dua pakar sejarah dan penulis Amerika Serikat: William Strauss dan Neil Howe. Milenial merupakan sebutan bagi salah satu generasi dari beberapa generasi yang sudah ada di bumi sejak dahulu. Istilah ini diserap dari kata “milenium” yang menurut KBBI adalah masa atau jangka waktu seribu tahun, peringatan atau perayaan yang ke-1000, hari ulang tahun ke-1000.

Berarti, kalau “milenial” dihubungkan dengan definisi di atas, dan disematkan pada sifat orang menjadi “orang yang milenial”, maka milenial itu orang yang hidup di tahun 2000-an, baik masa kecil, remaja, ataupun dewasa, yang penting bukan tua. Karena kalau tua sebentar lagi akan mati. Elwood Carlson, dalam bukunya yang bertajuk The Lucky Few: Between Generation and the Baby Boom, menyebutkan bahwa generasi milenial adalah manusia yang lahir di kisaran tahun 1983 s/d 2001 M. Namun, batasan tahun ini tidak menjadi ketetapan permanen yang tak bisa diganggu gugat. Karena para ahli dan peneliti lain berpendapat bahwa generasi milenial mulai ada sejak awal 1980-an hingga awal 2000-an. Jadi, bila ada orang kelahiran 1981 atau 2006 M misalkan, maka bisa dikatakan mereka juga termasuk generasi milenial. 

Generasi ini punya beberapa pembeda dengan generasi sebelumnya. Namun, secara umum  mereka memiliki tiga ciri khas. Sebagaimana dilansir oleh Wikipedia, 1) lebih akrab dan cakap dalam bidang teknologi. Kenyataannya bisa dilihat dari keseharian kita. Yang jadi maestro dalam game online di smartphone atau PC, tentu anak remaja sekolahan atau kuliahan. Yang ahli sekaligus berkecimpung di dunia jurnalistik, desain, dan perkantoran, serta selalu berkutat dengan kamera, komputer, internet, editing, grafis visual, dan sebagainya, tentu orang dewasa umur 20 atau 30-an. Para kakek nenek dan buyut jarang sekali yang tahu atau bahkan tak tahu sama sekali. Walau hanya sekadar hal remeh seputar aplikasi HP seperti “apa itu Mobile Legend?”, “cara posting foto di Instagram?”, atau “cara kirim pesan via Whatsapp?”.

2)Pecinta kebebasan dan rasa ingin tahu yang besar. Mereka ingin mengeksplorasi hal-hal di sekeliling mereka dan memutuskan sendiri apa yang terbaik untuk diri mereka. Seperti kaum vlogger, traveler, dan backpacker yang rela merogoh kocek setinggi langit demi mengunjungi berbagai macam tempat unik nan viral, baik di nusantara maupun manca negara. Atau para santri kala liburan pesantren, tak jarang mereka sisihkan hari-hari libur mereka dengan jalan-jalan ke luar kota bersama para teman dan kawan. Juga banyak kawula muda yang lebih memilih calon kekasih pilihan sendiri daripada dijodohkan orangtua.

3)Suka hal yang simpel dan praktis. Lihat saja perkembangan teknologi yang begitu pesat di milenium ini. Menghasilkan jutaan fasilitas penunjang aktivitas manusia. Menanak nasi? Cukup pakai rice cooker. Tekan tombol, duduk manis, tunggu tiga puluh menit, selesai. Menyalin tulisan untuk dibagikan ke orang banyak? Tak perlu ditulis ulang. Sekadar  fotokopi di toko percetakan, bayar murah, beres. Perut lapar ingin makan? Tak usah repot naik motor ke restoran tujuan. Hanya dengan segenggam HP, buka aplikasi GO-JEK, tekan GO-FOOD, tunggu sejenak, ”ting tong,” bel rumah berbunyi, makanan datang. Dan masih banyak contoh lainnya.


  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *