Filosofi Kata Santri

  • Bagikan
Filosofi Kata Santri

Mendengar kata “santri”, pasti yang terbayang pertama kali di pikiran adalah seorang remaja muda-mudi penuntut ilmu agama. Yang pemuda bersarung, baju takwa, dan sebuah kopiah bertengger kokoh di kepalanya. Sedangkan yang pemudi berkerudung, berbusana Islami yang menutup seluruh badan kecuali wajah dan telapak tangan serta tidak menampakkan lekak-lekuk tubuhnya.

Kala dipanggil, keduanya menjawab dengan bahasa halus seperti nggeh (Jawa), engkhi (Madura), atau bahasa Indonesia tapi dengan intonasi lembut menyejukkan hati. Selalu menebar senyum saat berpapasan muka dengan lawan bicara. Bila bertemu orangtua, guru, ataupun kiai, seketika mereka langsung mengecup punggung tangan beliau dengan takzim, berbicara sopan, cekatan bila ada hal yang perlu dilakukan, dan taat pada perintah beliau tanpa ada kata “tapi”. Santun gerak-gerik mereka, menyentuh kalbu para orangtua. Sesuai dengan petikan dawuh Imam Sufyan bin Uyainah, “sikap baik kepada orang lain itu sederhana: raut muka sumringah dan tutur kata ramah”. Mereka terbiasa hidup mandiri, karena sejak menyandang status “santri”, sudah meninggalkan rumah, keluarga, dan hidup serba sendiri di pesantren. Senada dengan penggalan puisi Gus Mus berjudul “Kami Santri”, Dengan mengenyampingkan kerinduan ibu ayah, Kami datang memungut perser perser barokah, Berbalut kain peninggalan si mbah, mengideologikan petuah petuah ilah.

Di pesantren, mereka juga fokus mendalami berbagai macam ilmu Islam seperti Fikih, Tauhid, Balaghoh, Nahwu, Hadits, Tafsir, dan pelbagai disiplin ilmu lainnya yang berkaitan dengan dunia Islam. Andaikata disuruh mempresentasikan ilmu-ilmu di atas, mereka langsung maju berdiri menjelaskan secara gamblang layaknya seorang dosen menerangkan pelajaran di universitas. Baca kitab, oke. Mendaras al-Quran dengan tartil, jago. Atau punya bakat yang beraneka ragam seperti pidato, mengukir tulisan kaligrafi, vokal bershalawat, seni menabuh rebana, pencak silat, dan sebagainya.

Namun, saat mendengar kata “milenial”, yang terbayang di pikiran adalah hal-hal canggih nan modern. Seperti para vokalis dan musisi yang sering nongol di Youtube dan televisi, baik video klip maupun tampil di panggung. Mereka sajikan suara emas nan merdu dalam lagu, diiringi permainan alat musik penuh irama ritmis dan nada yang melodius. Juga kaum aktor aktris yang bergelimang harta berkat akting memukau mereka di layar lebar. Jadi bintang iklan di mana-mana, konsisten berpenampilan dengan gaya stylish dan fashionable.

Atau bangsa karyawan dan reporter yang setiap kali kaki melangkah, mikrofon dan kamera canggih selalu berada di genggaman mereka. Merekam dan memotret peristiwa atau tragedi bersejarah serta mewawancarai narasumber dengan ribuan pertanyaan. Lalu merangkainya menjadi sebuah tulisan berbentuk berita, artikel, opini dan dimuat di berbagai media massa seperti koran, majalah, tabloid, website Google, dan semacamnya. Atau bahkan langsung ditayangkan di layar televisi di hadapan jutaan para permisa yang menonton. Tak lupa, para cerpenis, novelis, dan komikus yang mengarang karya tulis fiksi yang dramatis sekaligus seru. Di koran harian Kompas dan Republika, aplikasi Wattpad, atau di Line Webtoon Comic dan Ciayo Comic

Begitu juga para youtuber dan selebgram yang kreatif meng-upload video dengan konten-konten asik di channel Youtube atau Instagram mereka. Keahlian akting dan editing mereka berhasil menggaet lebih dari ratusan ribu viewer,  subscriber, dan follower. Tak ketinggalan, para muda-mudi dengan smartphone terkini selalu tergenggam di tangan mereka. Eksis di Instagram, Path, Snapchat, Twitter dan semacamnya serta rutin memposting foto-foto mereka saat mengunjugi berbagai tempat eksotis di akun media sosial. Bahkan tak jarang, juga bikin vlog di Youtube.

Jika kita bandingkan antara “santri” dan “milenial” sesuai dengan gambaran di atas, tentu sangat kontras alias beda jauh. Santri yang terkenal lembut, sederhana, dan religius bila disandingkan dengan milenial yang modern, gaul, gemerlap, dan mendunia, bagaikan planet Venus dan Neptunus. Tak ada kesamaan sama sekali.

Namun, di era serba teknologi ini, mulai muncul di permukaan, istilah “Santri Milenial”. Bahkan makhluk jenis ini sudah banyak bermunculan di berbagai pesantren nusantara. Bagaimana bisa “santri” dikombinasi dengan “milenial” padahal keduanya sangat bertolak belakang? Jawabannya, tentu saja bisa. Dan jangan bingung! Karena dalam artikel ini, kita akan membahas, mengapa dan siapa itu “Santri Milenial”?

# # #

Pertama-tama kita harus tahu, apa itu santri dan apa itu milenial. Mari kita mulai dari “santri” terlebih dahulu.

Dalam KBBI(Kamus Besar Bahasa Indonesia), santri adalah orang yang mendalami agama Islam, orang yang beribadah dengan sungguh-sungguh, orang yang saleh. Juga Almagfurlah KH. Hasani Nawawi Sidogiri berdawuh, bahwa santri itu orang yang berpegang erat pada al-Quran, mengikuti sunah-sunah Rasulullah, dan teguh pendirian alias tidak tolah-toleh kanan kiri, melainkan hadap ke depan lurus di jalan yang benar.

Diambil dari dua definisi santri di atas, bisa kita simpulkan, bahwa santri itu sangat taat dan takwa pada perintah agama, baik wajib maupun sunah. Meski melanggar secuil saja, mereka tak berani. Selaras dengan QS. Al-Hujurat(13:[49]) (artinya): “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling bertakwa”. Meski digoda setan, ditimpa cobaan, dipengaruhi doktrin sesat, dihujani olokan pedas para haters, hati dan iman mereka tetap tak tergoyahkan. Pandangan mata tak mau berpaling dari arah depan. Setia lurus ke  arah yang benar, walau di kanan kiri begitu menggiurkan. Tak menghiraukan ajakan maksiat, walau penuh resiko dan ancaman. Karena prinsip mereka, “Selagi dalam kebenaran, biarlah anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu.”  Tak lupa, mereka juga seorang pelajar. Memasuki dunia keilmuan Islam dan menguasainya. Mempraktikkan pengetahuannya di kehidupan sehari-hari dan mengajarkan kebenaran pada rakyat awam. Jadi panutan masyarakat dan rujukan utama bila ingin bertanya lebih mendalam tentang Islam. Serta membimbing sanak famili dan kerabat mereka menuju jalan penuh kebaikan. Sebagaimana QS. At-Tahrim : 06(artinya): “Wahai orang-orang beriman! Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *