Tantangan Generasi Milenial

  • Bagikan
Tantangan Generasi Milenial

Kata “santri” dan “milenial” tentu bisa digabung. Karena memang, keduanya  punya ciri-ciri yang bisa disatukan sekiranya tidak ada pertentangan di antara keduanya. Sehingga, dapat dipahami secara mudah bahwa santri milenial itu santri yang lahir di sekitar awal 1980-an hingga 2000-an, alim dalam masalah ilmu agama, berakhlak karimah, mahir dalam bidang teknologi digital dan media komunikasi serta memanfaatkannya untuk kemaslahatan Islam bukan diselewengkan pada kebatilan. Atau kalau diringkas lagi, santri yang berperilaku modern tapi tidak sampai keluar dari koridor syariat.

Ibarat internet, teknologi, dan segala sangkut pautnya adalah meriam raksasa. Pelurunya adalah hasil karya si penembak. Dan sasarannya adalah manusia di seluruh dunia. Orang-orang yang tidak pernah mondok, cerdas dalam mengoperasikan meriam itu. Menciptakan peluru sesuai dengan kreativitas dan pemikiran mereka.  Lalu ditembakkan kepada sasarannya. Kenyataannya, merekalah yang mendominasi dan paling banyak menembak. Hingga spesies manusia yang jadi sasaran menikmati, terpengaruh, dan terbiasa dengan peluru hasil karya mereka. Masalahnya, peluru-peluru itu tak jarang berisi hal-hal yang menyalahi syariat Islam seperti pacaran, buka aurat, berkata jorok, minuman keras, zina, prank yang kelewat batas, dan sebagainya. Atau bahkan menyimpang dan menyesatkan dari Islam yang lurus seperti Syiah, Wahabi, Liberal, dan semacamnya.

Nah, di sinilah peran santri milenial dibutuhkan. Mereka nyantri di pesantren, ilmu agama mapan, sekaligus pandai menggunakan meriam. Dibuatlah oleh mereka peluru yang berisi karya-karya kreatif yang menarik tapi tidak sampai keluar batas peraturan agama. Lalu ditembakkan ke segala penjuru dunia. Pemahaman mudahnya dari perumpamaan di atas, santri milenial itu pintar memainkan teknologi tapi juga dibekali dengan ilmu agama yang mumpuni. Di antara contoh isi peluru itu, mungkin ada santri yang 1)menulis artikel ilmiah sebagai pembenaran Islam Ahlus Sunah wal Jamaah dan bantahan atas aliran-aliran sesat lainnya, 2)mengarang cerpen tentang kehidupan pesantren dan seluk beluknya, 3)menerbitkan novel tentang perjuangan dakwah seorang santri di luar benua atau di negeri antah berantah, 4)merilis komik tentang percintaan Islami tanpa pacaran, buka aurat, dan hal yang dilarang lainnya, sebagaimana Allah berfirman (artinya), “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk” (QS. Al-Isra’ [17]:32), 5)memposting video komedi di Youtube atau Instagram tentang cara melaksanakan sunah-sunah Nabi, 6)mengadakan acara TV yang menayangkan ceramah dan tanya jawab seputar problematika keseharian seputar agama, 7)menciptakan lagu yang bersenandung tentang sifat terpuji sang Nabi dan ajakan untuk mencintai beliau, 8)membuat film layar lebar tentang perjuangan kiai bersama kaum santri memerjuangkan kemerdekaan Indonesia, dan contoh-contoh lainnya.

Sebagai penutup, santri milenial merupakan striker terdepan penyelamat kaum sarungan. Memusnahkan anggapan bahwa santri itu cuma bisa ilmu agama tapi “gaptek”(gagap teknologi). Padahal di milenium kedua masehi ini, kaum santri mulai mengubah jati diri mereka dan menjelma menjadi santri milenial yang mampu menyaingi para cendekiawan luar yang tak penah nyantri, baik dalam kancah nasional maupun internasional. 

Oleh karena itu, menyambut milad pondok pesantren Sidogiri ke 283 dengan motto “marhaban santri milenial”, kita pasti tahu apa makna yang terselubung dari motto tersebut, bahwa santri itu … (kalian para pembaca yang bisa menjawabnya).

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *